TENGOK SOSOK MUDA INSPIRATIF DI BIDANG AGRIPRENEUR

10/16/2016 05:23:00 AM



Petani yang Merdeka

Oleh : DWI BAYU RADIUS


Nur Agis Aulia (27) bergeming menekuni dunia pertanian, bahkan berjuang mematahkan anggapan bahwa bidang ini kurang menjanjikan. Lewat Jawara Banten Farm yang didirikannya, dia mewujudkan angan menjadi "jawara" pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian.

"Apa yang orang khawatirkan menjadi petani dan peternak adalah penghasilan yang baru diterima berbulan-bulan kemudian, yaitu saat panen," ujarnya di Serang, Banten, Jumat (12/8).

Untuk mengatasi kekhawatiran itu, Agis menjalankan usaha pertanian terpadu. Hasilnya lumayan. Dia memperoleh pendapatan setiap tahun, bulan, minggu, bahkan setiap hari.

"Penghasilan tahunan saya dapatkan dari hewan kurban dan sapi potong. Bulanan dari panen sayur dan akikah. Mingguan dari penjualan bibit," ujarnya. Penghasilan harian berasal dari penjualan susu kambing dan susu sapi.

Jawara Banten Farm terletak di Desa Waringinkurung, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten. Di area seluas sekitar 3.000 meter persegi itu terlihat kandang sapi dan kambing. Di sebelah kandang tampak kebun dengan tanaman seperti cabai, terung, dan pepaya.

Dengan berusaha mandiri dan menggeluti pertanian, Agis bisa mencukupi semua kebutuhannya. Dia tak lagi bergantung kepada orang lain. "Sebagai petani, saya merdeka. Saya bertani dan beternak sendiri. Jadi, kualitas, kesehatan, dan kehalalannya, saya juga tahu," ujarnya.

Sistem yang dijalankan Agis adalah pertanian terpadu yang bergerak secara simultan. Biaya terbesar dari budidaya tanaman adalah pupuk yang bisa diolah dari kotoran ternak. Sementara itu, biaya terbesar dari peternakan adalah pakan yang didapatkan dari limbah pertanian.

"Biaya bisa diturunkan. Sebaliknya, penghasilan meningkat dan bisa didapatkan setiap hari. Tak harus menunggu berbulan-bulan seperti petani dan peternak pada umumnya," katanya. Agis juga membina hubungan simbiosis mutualisme dengan petani setempat dengan menjadi anggota Kelompok Tani Hijau Daun.

Jumlah anggota kelompok itu 25 orang dengan mata pencaharian umumnya bercocok tanam. Petani bisa mengambil kotoran kambing dan sapi dari Jawara Banten Farm untuk dijadikan pupuk. Sebaliknya, Agis mendapatkan rumput atau tanaman liar untuk pakan ternak.

Dilarang jadi petani

Minat terhadap pertanian tumbuh semasa kuliah. Awalnya, Agis memilih Jurusan Biologi, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. "Tetapi, baru setahun saya sudah tak betah. Seusai kuliah, ke laboratorium, lalu menulis laporan. Bisa sampai tengah malam," katanya.

Hasrat Agis adalah memberdayakan masyarakat. Maka, tahun berikutnya, Agis putar haluan dengan pindah ke Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM. Agis lalu mendalami pertanian yang ditentang orangtuanya.

"Orangtua tak mau membiayai kuliah. Beruntung, saya sudah punya penghasilan sendiri sebagai ketua pengawas koperasi mahasiswa," ujar Agis. Ia juga meraih prestasi akademik yang baik sehingga bisa meraih beasiswa dan akhirnya menjadi sarjana dengan predikat cum laude.

"Orangtua tak rela saya kuliah jauh-jauh untuk jadi petani. Kata mereka, seperti sarjana gagal. Tak apa-apa. Saya minta doa restu saja. Itu yang penting," katanya sambil tertawa. 

Seusai kuliah, Agis kembali ke Serang dan bermaksud membuka usaha pertanian. Lagi-lagi, tantangan menghadang. Namun, pemuda itu tak peduli.

Orangtua tak mau Agis menjadi petani karena dirinya sebenarnya sudah diterima bekerja sebagai pegawai salah satu badan usaha milik negara (BUMN). "Warga juga sinis karena saya mau jadi petani. Tetapi, modal sudah ada. Uang saku dari beasiswa saya tabung. Jadi, tidak masalah," katanya.


Agis mulai mencoba menanam, antara lain, mentimun, kacang panjang, dan sawi pada 2013. Dia pun mulai merasakan beratnya menjadi petani dengan penghasilan yang baru diterima setiap dua hingga tiga bulan saat panen.

Dia memutar otak untuk meningkatkan pendapatan yang lebih rutin. "Setelah dua tahun, baru saya menemukan pola pertanian terintegrasi yang pendapatannya bisa diperoleh mingguan, bahkan harian," ujarnya. 

Agis telah membuktikan bahwa dirinya mampu mandiri. Hasil panen hortikultura pertama kali, sekitar 300 kilogram (kg), bisa dipertahankan hingga kini. Panen hortikultura berlangsung setiap tiga bulan. 

Agis juga merambah budidaya pepaya dengan hasil sekitar 300 kg per bulan. Pendapatan lain diperoleh dari penjualan bibit pepaya, cabai merah, terung, dan tomat. Rata-rata 300 bibit terjual setiap bulan.

"Kalau hewan akikah sebanyak 5-10 kambing terjual per bulan. Padahal, potensi permintaan mencapai 50-100 kambing per bulan," ujar Agis yang melayani pengantaran barang pesanan dengan sepeda motor sejak 2014.

Untuk menggenjot penjualan, mulai 2016, ia memasarkan produk olahan pertanian dan peternakan secara daring melalui situs www.jawarabanten.com. Baru beberapa bulan mencoba, Agus sudah kewalahan memenuhi permintaan pasar. 

Ajak masyarakat

Selain di Jawara Banten Farm, Agis menggarap lahan sewaan berupa sawah seluas 6.000 meter persegi di Desa Sambilawang, Kecamatan Waringinkurung. Hasil panen padi dari lahan itu sekitar 7 ton gabah kering panen per tiga bulan.

Agis berencana membuka perkebunan pepaya lagi di Kecamatan Baros, Kabupaten Serang. Dia tak mau menikmati kesuksesan sendiri dan mengajak masyarakat belajar pertanian.

"Anak-anak muda yang mau membangun desanya berdatangan. Hampir setiap bulan ada yang berkunjung. Sekali kunjungan, jumlah tamu bisa mencapai 300 orang," katanya. Mereka di antaranya mahasiswa, pensiunan BUMN, dan karyawan swasta yang melihat peluang pertanian.

Agis bersama sekitar 10 kawannya dari UGM, Universitas Padjadjaran, dan Institut Pertanian Bogor juga membentuk komunitas Banten Bangun Desa. Mereka sama-sama memiliki kegelisahan terhadap pertanian di Banten yang dianggap stagnan.

Komunitas itu menyadarkan masyarakat mengenai potensi di desa-desa yang sebenarnya amat besar. Mereka membedah potensi desa masing-masing. "Kami melakukan program saba desa atau terjun langsung ke lapangan. Pemuda-pemuda dilatih bertani dan beternak," kata Agis.
 
Mereka juga diajari menyusun rencana bisnis, memasarkan produk, dan mengenal peluang di desanya. Hingga saat ini terdapat sekitar 100 aktivis Banten Bangun Desa. Mereka tersebar di empat desa di Kabupaten Serang dan dua desa di Kabupaten Pandeglang.

"Selain pemuda, ada organisasi kemahasiswaan yang berpartisipasi. Lalu, terdapat 10 kelompok tani dan satu gabungan kelompok tani yang dilibatkan," tuturnya.

Agis tidak mengetahui pasti jumlah total pemuda yang sudah mendapatkan manfaat dari program Banten Bangun Desa. Namun, dia sendiri sudah mengajari lebih dari 1.000 orang. 

Mulai akhir 2015, Agis melihat banyak anak muda Banten pulang kampung. "Mereka kembali dengan semangat start up (rintisan baru) menjadi petani dan peternak untuk membangun desanya. Itu sejalan dengan motivasi saya," katanya sambil tersenyum. 

Agis ingin mengurangi pengangguran dan kemiskinan, terutama di pedesaan. Potensi pertanian sebenarnya luar biasa besar. "Tetapi, banyak petani masih miskin. Kalau mau mengurangi kemiskinan dan pengangguran, saya harus membuka usaha dan mengajak masyarakat melakukannya," katanya.

Sumber : Harian Kompas tanggal 18 Agustus 2016

Tonton juga tokoh Agis dalam Kick Andy : https://www.youtube.com/watch?v=V38yzqgBeCc

Di post oleh : Rr. Megandini Listy Indira

You Might Also Like

1 komentar

  1. Rizka Untesa Putri
    15/379671/PN/14125

    1. Timelines: berita tersebut bersifat baru, dalam berita tersebut memuat hal mengenai perkembangan usaha pertaniannya pada tahun 2016
    2. Proximity: berita tersebut berkaitan dekat dengan petani baik petani dalam krlas atas maupun kelas bawah
    3. Importance: berita tersebut memuat hal yang penting mengenai membangun pertanian yang lebih baik
    4. Prominenca : berita tersebut membahas mengenai seorang tokoh terkemuka, salah satu alumni UGM, selain itu juga disebutkan beberapa alumni yang berasal dari kampus terkemuka.
    5. Development: berita tersebut sangat membangun hati para pembaca agar sadar netapa penting dunia pertanian dan bagaimana peluang bisnis dalam bidang pertanian
    6. Human intetest: berita tersebut mengandung nilai human interest ketika orang tua dari saudara agos aulia tidak menyetujui ketika anaknya ingin menjadi seorang petani
    7. Conflict:mengenaipertanian yang masih dianggap rendahan oleh beberapa orang

    1. Adanya ide baru dalam berita tersebut yaitu adanya sistem pertanian terpadu
    2. Adanya sasaran secara langsung yaitu kepada petani dan sasaran tak langsung pada pamong desa serta kepada agen sesama
    3. Adanya manfaat yaitu memotivasi petani untuk memperbaiki atau mengembangkan sistem pertaniannya agar menghasilkan produk yang maksimal
    4. Adanya nilai pendidikan yaitu mengajarkan bahwa dunia pertanian memiliki peluang bisnis yang nesar ketika dikelola dengan sistem yang baik

    BalasHapus

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe